1# Burried Alive
Lalu bentuk penyiksaan manusia yang selanjutnya adalah Burried Alive, sesuai namanya korban akan dikubur secara hidup-hidup. Metode eksekusi mati yang populer di Cina ini juga tidak menyebabkan luka fisik hanya saja korban akan mati tercekik karena kehabisan nafas. Metode yang sering dilakukan adalah menaruh korban ke peti mati dalam keadaan hidup lalu menguburnya kedalam tanah atau juga bisa secara masal seperti saat Pembantaian Nanjing. Yaitu beratus-ratus orang cina dimasukan kedalam sebuah lubang yang sangat besar lalu dikubur hidup-hidup
2# Cement Shoes
Kita beralih ke alat siksa manusia di air. Yep, Cement Shoes atau disebut Sepatu Semen. Sesuai namanya, alat yang sering dipakai untuk menghukum mati oleh mafia-mafia ini bekerja sebagai pemberat. Korban yang tidak beruntung dilumuri semen agar menutup semua bagian kakinya. Lalu setelah semen kering, korban yang tidak bisa bergerak karena kakinya telah tertutup oleh semen dilemparkan ke laut. Tentu saja tujuan dari hukuman mati ini agar korban mati kehabisan oksigen, atau terkadang, tubuh korban di iris terlebih dahulu agar saat ditenggelamkan mengeluarkan darah dan tentu saja akan menjadi santapan ikan hiu.
3# Scaphism
Yang ini adalah Scaphism. Metode penyiksaan manusia yang banyak digunakan di Persia ini mempunyai konsep mati perlahan. Yaitu korban akan dikurung dan puasa selama 2-3 hari hingga korban benar-benar lemas, setelah itu korban akan dipaksa minum susu dan madu sampai diare berkepanjangan. Tidak berhenti di situ korban lalu di masukan kedalam perahu dan tubuhnya dilumuri madu. Hingga lama kelamaan banyak serangga seperti belatung dan cacing yang datang maupun tumbuh dalam perut korban menggerogoti jasad korban hingga tewas.
4# Flaying
Selanjutnya adalah Flaying atau Pengulitan. Ini adalah penyiksaan yang dirasa sangat kejam. Korban akan diikat atau dibaringkan lalu sang algojo akan memulai mengkuliti korban yang biasanya dimulai dari kaki lalu ke paha. Tentu saja ini akan mengakibatkan rasa sakit yang luar biasa besar pada korban. Flaying bisa menjadi metode Eksekusi mati maupun hanya penyiksaan tergantung berapa banyak kulit yang diangkat. Hanya saja rata-rata korban Flaying sudah pingsan saat dikuliti bagian paha.
5# Ling Chi
Ling Chi hikayatnya adalah metode penyiksaan yang sama seperti Flaying, yaitu dengan mengupas kulit korban. Hanya saja bedanya disini adalah Ling Chi murni untuk hukuman mati, dengan metode yang lebih sadis. Korban dikuliti dengan cara diiris kecil secara berulang-ulang, metode yang digunakan di China pada abad 900 masehi dan baru dihapus pada tahun 1905 ini dikatakan agar sang korban merasakan hikayat mati dengan seribu luka ( one thousand pain ). Ling Chi ditujukan pada pidana kelas terberat seperti pengkhianatan dan pembunuhan.
6# Shoes Torture
Kemudian kita akan membahas Shoes Torture atau juga dikenal dengan Spiked Shoes ( sepatu duri ). Salah satu alat penyiksaan yang juga biadab. Yaitu korban dipaksa memaki spatu besi yang beralaskan duri runcing. Bentuk penyiksaan ini kerap digunakan untuk tawanan penjara yang membangkang atau kelas berat. Menyebabkan kesakitan yang amat dahsyat pada alas kaki. Biasanya alas sepatu tersebut dibuat berlubang agar darah dapat berceceran dilantai sebagai siksaan mental bagi korban serta tawanan lain.
7# Scolds Bride
Yang Kedua adalah Scolds Bride atau bahasa Indonesianya adalah Kekang Pengantin, sebuah alat hukum yang dikhususkan kepada wanita yang bawel, atau terlalu banyak bicara, juga kepada beberapa wanita yang dianggap penyihir dan berbahaya. Mempunyai nama lain Branks Bride atau Kekang Branks sesuai nama penemunya mempunyai mekanisme seperti topeng yang menekan mulut dan menekan lidah, yang membuat ini berbahaya adalah seringkali pinggir dari Alat penyiksaan ini diberi duri-duri yang tajam hingga jika korban membuka mulutnya saja akan langsung tergores atau tertancap duri-duri tersebut.
8# Heretic’s Fork
Yang selanjutnya adalah Garpu Heretic, salah satu alat Penyiksaan manusia yang cukup sering digunakan dan populer dizaman pertengahan. Mekanismenya-pun cukup sederhana yaitu dengan menggabungkan dua garpu U dengan tali untuk mengikatnya. Alat siksa ini lalu diletakan pada daerah tenggorokan korban. Satu garpu menancap pada bagian atas dada dan satu lagi pada bawah dagu yang membuat kepala korban selalu mendongak keatas. Tujuan dari alat siksa ini adalah agar korban kelelahan dan tak bisa tidur, karena setiap kali korban menundukan kepalanya otomatis ujung garpu akan menusuk dagu korban dan membuatnya tersadar kembali. Hingga korban kehabisan tenaga dan mengalami banyak halusinasi.
9# Breaking Wheel
Lalu kita beralih kepada Breaking Wheel, atau roda penghancur. Alat siksa manusia yang satu ini hanya merupakan medium, atau sekedar wadah untuk mengikat manusia. Korban yang tidak beruntung diikatkan kepada roda berjari-jari besar ini seperti huruf X dan diikat kuat dengan tali di kedua tangan dan kaki. Banyak variasi dalam menyiksa korban dengan alat ini, ada yang digelindingkan dari bukit hingga tubuh korban babak belur, atau korban dipukuli dengan pentungan dan gada selagi terikat di roda lalu dibiarkan sekarat hingga ajal menantinya.
10#Dunking Stool
Dunking Stool atau juga biasa disebut Ducking Stool adalah salah satu alat siksa manusia abad lalu yang lebih dikhususkan kepada perempuan pezina, tidak bermoral atau bahkan dianggap penyihir. Dalam bahasa Indonesia mungkin namanya adalah Bangku Tunduk, yaitu alat siksa yang menggunakan prinsip jungkat-jungkit, hanya saja salah satu ujungnya diberi bangku dan di hadapkan pada sungai yang dalam dan kotor. Mekanisme penyiksaanya adalah korban didudukan pada bangku yang mengarah kesungai tersebut. Tujuannya jika hanya untuk penyiksaan korban akan dinaik-turunkan hingga ia merasa sesak nafas dan kemasukan air namun jika untuk hukuman mati korban akan dibiarkan turun dibawah air hingga mati kehabisan nafas di dasar sungai.
############################











0 Komentar